pagi-pagi, iseng menanyakan kabar monyet, karena PUPUK lagi ada semprotan nyamuk, dan, dia bercerita sedang di solo, karena ayahnya si mbak meninggal, heumps, diam sebentar, dan mengatakan ikut berduka cita. meski kadang masi keingetan nasib apes itu, cuman ini soal rasa kemanusiaan, saya pikir ga masalah. sempat terbersit untuk sms si mbak, cuman takut malah menyakiti, walaupun hanya sekedar ikut bela sungkawa.
hal lain, saya dari kemaren tu mau posting soal cemburu, di blog lama saya, saya pernah nulis soal manajemen cemburu, dan saya kok tidak mengindahkannya lagi ya sekarang, akhirnya saat berseberangan pendapat dengan orang, saya tersadar, dititik saya cemburu tanpa alasan jelas pada seorang kawan wanita. saat mendengarkan kata-kata yang bersangkutan, penjelasan yang meluncur dengan bijaksana dari mulutnya, terima kasih banyak, saya tidak berusaha membantah atau berusaha makin berseberangan dengannya karena saya sadar, semakin saya berusaha melawan maka akan semakin panjang, sehingga saya hanya diam, i close my eyes and the flashback starts.
kenapa ada rasa cemburu, entah, apakah sudah tepat disebutnya sebagai rasa cemburu, karena bedanya tipis antara cemburu dan sayang, lagipula i don’t let nobody see me wishing someone was mine, until my faith in him is fading.
duh, bo, kok saya jadi kayak nulis surat cinta buat sape gitu ya, hehehehe....
padal ini soal bahasan cemburu.
ilupu hehehe....
sisan, ben kayak surat cinta beneran hehehe....
last, met nyontreng ye....
hal lain, saya dari kemaren tu mau posting soal cemburu, di blog lama saya, saya pernah nulis soal manajemen cemburu, dan saya kok tidak mengindahkannya lagi ya sekarang, akhirnya saat berseberangan pendapat dengan orang, saya tersadar, dititik saya cemburu tanpa alasan jelas pada seorang kawan wanita. saat mendengarkan kata-kata yang bersangkutan, penjelasan yang meluncur dengan bijaksana dari mulutnya, terima kasih banyak, saya tidak berusaha membantah atau berusaha makin berseberangan dengannya karena saya sadar, semakin saya berusaha melawan maka akan semakin panjang, sehingga saya hanya diam, i close my eyes and the flashback starts.
kenapa ada rasa cemburu, entah, apakah sudah tepat disebutnya sebagai rasa cemburu, karena bedanya tipis antara cemburu dan sayang, lagipula i don’t let nobody see me wishing someone was mine, until my faith in him is fading.
duh....nerpes....mau wawancara....eh mewawancarai....
nerusin tulisan ya setelah berpuas diri melakukan wawancara, yang soal cemburu. kenapa saya sampai bisa cemburu? karena, begini ya, sayangku, dia mengenal dikau lebih dulu, berbagi banyak hal dengan dikau lebih dulu, bersamanya dikau melewati hari dan waktumu, mulai dari marah sedih kecewa gembira. sedangkan aku, yang hadir belakangan, merasa sebagai orang yang akan mengganggu rutinitas kebersamaan kalian. walaupun saat menerimamu, itulah satu paketmu yang harus kuresapi bersamamu, agar aku bisa bersinergi denganmu. memang tidak ada kata rindu atau cinta, tertulis, terucap namun tidak tahu apakah pernah terbersit diantara kalian. aku pun tak akan memikirkannya, buat apa? semakin melemahkan otakku dalam proses menerima kehadiranmu di hatiku. welah, medeni, melows. but it's true. aku baru menyadari, itulah alasanku cemburu. meskipun dia temanmu, aku kadang merasa kau berbagi lebih banyak dengannya daripada denganku, entah apakah memang benar begitu. aku merasa kalian bercerita tanpa berbatas, bisa saling marah dengan puas, namun denganku, aku merasa kita berjarak. jadi masihkah kau bertanya alasanku cemburu, sayangku? masih kurangkah penjelasanku?duh, bo, kok saya jadi kayak nulis surat cinta buat sape gitu ya, hehehehe....
padal ini soal bahasan cemburu.
ilupu hehehe....
sisan, ben kayak surat cinta beneran hehehe....
last, met nyontreng ye....

Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire