pilem perancis lucu, yang baru aja saya baca resensinya di cita cinta, majalah sejuta umat tuh :p
artinya, heumps, pokoknya, duh, nek wes pokoknya ki biasanya ngarang, jadi artinya malam ini aku di rumahmu, maksudnya mungkin per hari ini kita harus tinggal serumah ya, walah, di perancis mah udah biasa, cuman di indonesia ga mungkin kali, alih-alih, mungkin pembenaran atas nikah siri atau kumpul kebo ya. kalau soal nikah siri saya bukan ahlinya, karena beda-beda pendapat juga. enough...
today, saya mau cerita, again, pernah ada yang bercerita pada saya, dulu waktu kakeknya meninggal, neneknya menangisi kakeknya sampai 100 hari, dan tidak pernah tidak menangis kalau di makamnya, entah takjub entah heran akan besarnya cinta diantara kakek neneknya, dia, yang bercerita pada saya itu.
saya sendiri lebih menyukai ke pemakaman daripada pernikahan, bukannya senang sama perpisahan, meskipun sudah berkali-kali menyaksikan perpisahan, namun tetap tidak terbiasa dengan yang namanya perpisahan, mungkin itu alasan saya tidak menyukai perpisahan pun juga tidak menikmati pertemuan. entah pasangan, entah orangtua dan anaknya pun sebaliknya, bagi orang normal, biasanya yang ditinggalkan pasti akan merasa kehilangan, sedih yang tak tertahankan, menangis atau meratapi, entah sampai berapa hari, entah sampai berapa lama. saya juga, yang datang ke acara pemakaman, biasanya saya menangis, bukan karena merasa ditinggalkan, walaupun ada alasan itu juga, namun biasanya saya lebih kepada menangis karena mengenang mereka yang telah pergi, dan menangisi mereka yang ditinggalkan. aneh ya, saya hanya merasa, mereka yang pergi akan menemukan jalannya sendiri, namun yang ditinggalkan akan, harus si biasanya, susah payah menyusun kepingan hidup mereka lagi, bagaimana caranya agar mereka, yang ditinggalkan akan atau bisa kembali menjalani rutinitasnya seperti biasanya. entah, selalu begitu, heumps, dalem juga ya. lagi pula dalam benak saya, mereka yang meninggalkan akan bisa mengamati, mereka yang sudah mereka tinggalkan, karena kalau melihat si udah pasti ^_^
disatu titik, mereka yang meninggalkan, akan tau, seberapa besar cinta dan kasih itu menetap dalam besarnya air mata yang tercurah, sehingga mereka yang meninggalkan akan tenang disana, karena mereka tahu kalau cinta itu masih ada.
saya pernah ditinggalkan juga, biasanya nangisnya kalau ditinggalin tu maksimal 1 bulan, ga rutin tiap hari. dulu si cuek, pikirnya masi banyak mas-mas cakep yang okeh, jadi ngapain sedih. sekarang si udah dewasa, eh mature deng, karena ga mau menyebut diri tua hehehe.... jadi menangis bukan lagi pilihan utama, walaupun tanpa sengaja masih saja berlinangan air mata juga, but its not the point about my posting today.
dans ma pensée de vous il ya un sous-jacent d'amour qui est présent dans chaque mot, chaque idée, je l'espère, vous vous sentez comme je le fais, c'est ce que je suis et je serai toujours.
artinya, heumps, pokoknya, duh, nek wes pokoknya ki biasanya ngarang, jadi artinya malam ini aku di rumahmu, maksudnya mungkin per hari ini kita harus tinggal serumah ya, walah, di perancis mah udah biasa, cuman di indonesia ga mungkin kali, alih-alih, mungkin pembenaran atas nikah siri atau kumpul kebo ya. kalau soal nikah siri saya bukan ahlinya, karena beda-beda pendapat juga. enough...
today, saya mau cerita, again, pernah ada yang bercerita pada saya, dulu waktu kakeknya meninggal, neneknya menangisi kakeknya sampai 100 hari, dan tidak pernah tidak menangis kalau di makamnya, entah takjub entah heran akan besarnya cinta diantara kakek neneknya, dia, yang bercerita pada saya itu.
saya sendiri lebih menyukai ke pemakaman daripada pernikahan, bukannya senang sama perpisahan, meskipun sudah berkali-kali menyaksikan perpisahan, namun tetap tidak terbiasa dengan yang namanya perpisahan, mungkin itu alasan saya tidak menyukai perpisahan pun juga tidak menikmati pertemuan. entah pasangan, entah orangtua dan anaknya pun sebaliknya, bagi orang normal, biasanya yang ditinggalkan pasti akan merasa kehilangan, sedih yang tak tertahankan, menangis atau meratapi, entah sampai berapa hari, entah sampai berapa lama. saya juga, yang datang ke acara pemakaman, biasanya saya menangis, bukan karena merasa ditinggalkan, walaupun ada alasan itu juga, namun biasanya saya lebih kepada menangis karena mengenang mereka yang telah pergi, dan menangisi mereka yang ditinggalkan. aneh ya, saya hanya merasa, mereka yang pergi akan menemukan jalannya sendiri, namun yang ditinggalkan akan, harus si biasanya, susah payah menyusun kepingan hidup mereka lagi, bagaimana caranya agar mereka, yang ditinggalkan akan atau bisa kembali menjalani rutinitasnya seperti biasanya. entah, selalu begitu, heumps, dalem juga ya. lagi pula dalam benak saya, mereka yang meninggalkan akan bisa mengamati, mereka yang sudah mereka tinggalkan, karena kalau melihat si udah pasti ^_^
disatu titik, mereka yang meninggalkan, akan tau, seberapa besar cinta dan kasih itu menetap dalam besarnya air mata yang tercurah, sehingga mereka yang meninggalkan akan tenang disana, karena mereka tahu kalau cinta itu masih ada.
saya pernah ditinggalkan juga, biasanya nangisnya kalau ditinggalin tu maksimal 1 bulan, ga rutin tiap hari. dulu si cuek, pikirnya masi banyak mas-mas cakep yang okeh, jadi ngapain sedih. sekarang si udah dewasa, eh mature deng, karena ga mau menyebut diri tua hehehe.... jadi menangis bukan lagi pilihan utama, walaupun tanpa sengaja masih saja berlinangan air mata juga, but its not the point about my posting today.
dans ma pensée de vous il ya un sous-jacent d'amour qui est présent dans chaque mot, chaque idée, je l'espère, vous vous sentez comme je le fais, c'est ce que je suis et je serai toujours.

Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire