saya lupa, kapan terakhir kali menangis untuk diri saya sendiri, mungkin pada waktu saya menikah, saat saya harus sungkem pada orang tua dan mertua saya, saat saya dalam hati mengucap banyak hal, yang tidak bisa saya ucapkan waktu itu.
dan malam ini, saya kembali menangis, untuk alasan lain, yang lebih sangat tidak masuk akal. tidak, 2 hari yang lalu saya juga menangis untuk alasan yang sama, dengan tingkat kesakitan yang hampir sama, dengan taraf ketidakmampuan menahan perasaan yang bergejolak dan pasti akan melelahkan bila tidak tertumpah.
saya mencoba mengingat, mata itu, bagaimana menatap saya, dan semakin perih saat saya tau saya sudah tidak akan memandanginya lagi. hari ini, malam ini tepatnya saya baru menyadari, semua sudah hilang, terlepas dari tangan saya. bahkan menangisinya saja sudah sangat terlambat, namun saya tidak bisa menghentikan air mata saya. sakit sekali, tapi yang sudah hilang tidak pernah akan kembali, apalagi hilangnya bukan karena dicuri, tapi atas kehendaknya sendiri.
PS. Ayah, jangan tanyakan sakitku, saat kau bersamanya
dan malam ini, saya kembali menangis, untuk alasan lain, yang lebih sangat tidak masuk akal. tidak, 2 hari yang lalu saya juga menangis untuk alasan yang sama, dengan tingkat kesakitan yang hampir sama, dengan taraf ketidakmampuan menahan perasaan yang bergejolak dan pasti akan melelahkan bila tidak tertumpah.
saya mencoba mengingat, mata itu, bagaimana menatap saya, dan semakin perih saat saya tau saya sudah tidak akan memandanginya lagi. hari ini, malam ini tepatnya saya baru menyadari, semua sudah hilang, terlepas dari tangan saya. bahkan menangisinya saja sudah sangat terlambat, namun saya tidak bisa menghentikan air mata saya. sakit sekali, tapi yang sudah hilang tidak pernah akan kembali, apalagi hilangnya bukan karena dicuri, tapi atas kehendaknya sendiri.
PS. Ayah, jangan tanyakan sakitku, saat kau bersamanya

Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire