kebetulan hari ini pulangnya lewat jalur yang agak beda, dalam artian, karena mau nganter cucian, jadi memutar agak jahu. di perempatan ring road, entah bagaimana, dan ga tau awal permasalahannya, saya yang sejajar sama avanza silver, agak kaget saat si mbak tiba-tiba keluar dari mobil. memang agak mengundang perhatian juga sih, karena dianya pake acara ngabur gitu, mana kesannya heboh banget.
karena dikondisikan untuk melihat, maka saya menoleh, dan memang mendonasikan waktu 75 detik saya yang tersia-siakan terhenti di perempatan itu hanya untuk memandang, dan mencoba mencari artinya. si mbak yang pake kacamata, berambut pendek, plus celana pendek lari ke seberang, yang berlawanan arah sama togamas, pikirku, pasti berharap setengah mati untuk dikejar atau minimal ditelpon deh. cuman, si cowoknya, hanya membuka jendela sedikit dan menyalakan rokok. saya ga menyalahkan ketidakgentelannya ya. bagi saya, manusia hidup dengan bahasa verbal, bukan dengan bahasa isyarat atau telepati, berharap saling dimengerti, so, ya wajar saja kalau si mbak kacamata bercelana pendek itu sampai 75 detik waktu saya memandangi peristiwa itu didiemin sama mas yang membuka jendela agar bisa merokok. penampkan mas yang membuka jendela agar bisa merokok, tidak begitu jelas apakah dia frustasi atau malah hepi setengah mati, namun dianya kayaknya mati gaya juga, rencana mau belok ke timur malah jadi ikutan sama kayak saya terus ke utara.
setelah 75 detik, maka saya kembali fokus ke acara nyetir mobil saya dong. seharian ini tidak fokus sama sekali, apalagi didukung kondisi badan yang memang tidak sedang fit, dan mas budi, heumps, mengingatkan saya pada blunder yang saya lakukan di masa lalu, terutamanya di ulang tahun saya yang ke-25. but its really over.
PS. Ayah, just answer me, why men lie and women cry?
karena dikondisikan untuk melihat, maka saya menoleh, dan memang mendonasikan waktu 75 detik saya yang tersia-siakan terhenti di perempatan itu hanya untuk memandang, dan mencoba mencari artinya. si mbak yang pake kacamata, berambut pendek, plus celana pendek lari ke seberang, yang berlawanan arah sama togamas, pikirku, pasti berharap setengah mati untuk dikejar atau minimal ditelpon deh. cuman, si cowoknya, hanya membuka jendela sedikit dan menyalakan rokok. saya ga menyalahkan ketidakgentelannya ya. bagi saya, manusia hidup dengan bahasa verbal, bukan dengan bahasa isyarat atau telepati, berharap saling dimengerti, so, ya wajar saja kalau si mbak kacamata bercelana pendek itu sampai 75 detik waktu saya memandangi peristiwa itu didiemin sama mas yang membuka jendela agar bisa merokok. penampkan mas yang membuka jendela agar bisa merokok, tidak begitu jelas apakah dia frustasi atau malah hepi setengah mati, namun dianya kayaknya mati gaya juga, rencana mau belok ke timur malah jadi ikutan sama kayak saya terus ke utara.
setelah 75 detik, maka saya kembali fokus ke acara nyetir mobil saya dong. seharian ini tidak fokus sama sekali, apalagi didukung kondisi badan yang memang tidak sedang fit, dan mas budi, heumps, mengingatkan saya pada blunder yang saya lakukan di masa lalu, terutamanya di ulang tahun saya yang ke-25. but its really over.
PS. Ayah, just answer me, why men lie and women cry?

Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire