septembre 23, 2009

diam bukan berarti tidak membela

quote yang akan selalu menjadi prinsip saya, gara-gara kemaren liat perempuan berkalung surban. sebenarnya kata-kata biasa saja ya, cuman maknanya dalem lo. saya bukan tipikal penyuka melihat pilem indonesia di bioskop karena jarak tayang di bioskop sama tipi pasti deket, jadi milih baca buku dulu. karna ga ada cinta fitri, saya milih nonton itu aja, lagipula saya liat cinta fitri akibat hasil recokan om gagah dan beberapa kawan akhirnya mau ga mau saya jadi demen liat sinetron itu, dan saya pun menonton sinetron lagi hehehehehe.

bukan tanpa sebab, saya melihat filem itu, sebagai seseorang yang mendukung kesetaraan gender, film tersebut sarat makna. bahwa dalam kondisi tertentu, budaya tertentu, bahkan di agama tertentu, masih saja wanita dipinggirkan, dengan berbagai alasan dan pandangan yang tidak sepenuhnya benar. saya setuju, pria dan wanita, berbeda, namun tetap sama. bagi saya Tuhan lebih sayang pada kaum wanita, karna Dia membuat kaum saya diberi kemampuan untuk bisa memiliki anak, termasuk paket kerepotannya, dan kelebihan itu kadang malah menjadi kelemahan yang sering dianggap fatal. lagi pula bagi saya, hamil itu bukan sakit. kembali ke quote itu ya, yang mengatakan itu adalah sosok ibu sekaligus istri, yang sebenarnya bukan sosok yang lemah, dalam pandangan saya dia lebih berfungsi sebagai peyangga keluarga. demi keutuhan keluarganya, bagaimanapun dia tidak suka pun juga tidak setuju, dia hanya diam. karena baginya berontak adalah kehancuran. visualisasi sosok nyai oleh widyawati keren banget, bahkan bagi saya lebih keren dibandingkan pemeran tokoh utamanya sendiri.

saya diam, selama ini, semenjak waktu, semampu saya, suka atau pun tidak suka, agar semuanya berjalan sewajarnya, runtut seperti adanya. berbagai kata-kata, bagi saya menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan sikap saya. saya lebih suka menunduk dibandingkan memandang, jadi maafkan saya bila sekarang saya tidak pernah memandang lagi. meskipun komunikasi itu penting, tapi bicara lebih oke daripada sms-an hehehhehe....
cuman makin ga menarik kalau mau telpon aja sembunyi-sembunyi, bukan demikian abang? masih gerah neh gara-gara kejadian kemaren, kau menjadi terlihat makin cupu dimataku, meskipun dengan segala kelebihanmu saat itu. apa bedanya kau dengan monyet dimasa lalu, sebaiknya kau mengaca sebelum menjudment segala sesuatunya kawan, hehehehhe....

duh makin pedas saja tulisanku, padahal bulan saja belum berganti dari syawal. namun sekarang aku menjadi tau, kalau ingin tau rasanya pete, ya jangan yang dimakan jengkol.

PS. Ayah, kurangin tidur banyakin ngopi, ailoyupul hahahahhah..........

Aucun commentaire: