perjalanan dari atas sore ini membuat saya belajar banyak pada mantan atasan saya tentang banyak hal, termasuk menjadi idiot karena cinta. saya melakukannya, tidak hanya menjadi kekanak-kanakan karena cinta, tapi menjadi idiot karna cinta. namun hari ini saya ingin menjadi sembuh dari keidiotan saya, secara wajar tanpa perlu pengobatan.
malam ini, masih dengan cerita yang sama, sepulang dari atas, saya adu mulut yang sangat hebat, kejam, sinis, mengerikan, saling berargumen dan sangat tajam, tidak ada yang mau mengalah dan saling menyerang, penuh dengan triakan. namun saya sadar, saya tidak harus menjadi idiot untuk bisa menjadi cerdas. pada akhirnya saya juga yang mengalah, demi rasa ketidakidiotan yang mendadak ingin saya miliki, diam, dan sempat berujar kata-kata aku iri. iri, ya hanya iri.
untuk kasus ini, saya selalu berterima kasih, saya menjadi manusia, yang tidak bisa tidak pada iri dan diperbolehkan untuk tidak melakukan segala sesuatu dengan logika.
dalam bayangan saya saat pulang tadi, saya sedang duduk di depan laptop saya ditemanin kacang bawang dan banyak botol vodka di sekitar saya. entah, dibandingkan dengan yang lainnya, saya sangat cinta mati sama vodka. (mantan) pacar saya dulu yang ngajarin, dan masih (sering) terbawa sampai sekarang, dan saya hanya meminumnya saat sedang tidak punya koneksi yang bagus dengan hati dan otak saya, seperti sekarang ini, namun malam ini, saya memilih untuk bertindak cerdas dengan hanya duduk di depan laptop, tidak ditemanin apapun, no more mistake.
akhirnya saya lelah, terlalu lelah pada iri saya, iri pada dia yang sakit, dan saya sendiri sampai sekarang, tidak tahu saya sakit atau tidak. apakah karena saya dicap sehat dan utuh maka saya tidak boleh iri? apakah jika hati saya sakit itu bukan sakit? apakah harus pulang dan bertemu, hanya karena terpaksa? apakah semuanya memang karena kamuflase? i do regret...
saya tidak mau terpaku pada hal ini lagi, saya tidak ingin menjadi idiot selamanya. saya ingin bebas dari rasa idiot saya, dan saya harap selamanya.
PS. Ayah, mari musnahkan idiot kita ini, saat ini juga, pelan-pelan saja
malam ini, masih dengan cerita yang sama, sepulang dari atas, saya adu mulut yang sangat hebat, kejam, sinis, mengerikan, saling berargumen dan sangat tajam, tidak ada yang mau mengalah dan saling menyerang, penuh dengan triakan. namun saya sadar, saya tidak harus menjadi idiot untuk bisa menjadi cerdas. pada akhirnya saya juga yang mengalah, demi rasa ketidakidiotan yang mendadak ingin saya miliki, diam, dan sempat berujar kata-kata aku iri. iri, ya hanya iri.
untuk kasus ini, saya selalu berterima kasih, saya menjadi manusia, yang tidak bisa tidak pada iri dan diperbolehkan untuk tidak melakukan segala sesuatu dengan logika.
dalam bayangan saya saat pulang tadi, saya sedang duduk di depan laptop saya ditemanin kacang bawang dan banyak botol vodka di sekitar saya. entah, dibandingkan dengan yang lainnya, saya sangat cinta mati sama vodka. (mantan) pacar saya dulu yang ngajarin, dan masih (sering) terbawa sampai sekarang, dan saya hanya meminumnya saat sedang tidak punya koneksi yang bagus dengan hati dan otak saya, seperti sekarang ini, namun malam ini, saya memilih untuk bertindak cerdas dengan hanya duduk di depan laptop, tidak ditemanin apapun, no more mistake.
akhirnya saya lelah, terlalu lelah pada iri saya, iri pada dia yang sakit, dan saya sendiri sampai sekarang, tidak tahu saya sakit atau tidak. apakah karena saya dicap sehat dan utuh maka saya tidak boleh iri? apakah jika hati saya sakit itu bukan sakit? apakah harus pulang dan bertemu, hanya karena terpaksa? apakah semuanya memang karena kamuflase? i do regret...
saya tidak mau terpaku pada hal ini lagi, saya tidak ingin menjadi idiot selamanya. saya ingin bebas dari rasa idiot saya, dan saya harap selamanya.
PS. Ayah, mari musnahkan idiot kita ini, saat ini juga, pelan-pelan saja

Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire